Senin, 06 November 2017

Yang Sabar Yaa..

Kali ini berganti patner lagi, biar lebih banyak dan belajar dengan hal-hal yang berbeda.

Patner : Ibu
Target : Lebih sabar

Di malam sebelumnya, duduk-duduk santai aja sama ibu, cuma aku, ibu dan si bayi. Karena mas Bro lagi ke rumah mertua, jagain rumah yang kosong. Sedangkan Anggi lagi bikin kue di rumah tante, karena besok (Minggu) teman SMA ku pada mau main ke rumah. Ibu cerita tentang si bayi yang semakin pinter dan semakin aktif.Kalau nyuapin makan sampai harus ikut merangkak sama si bayi. Haduhh maaf ya..

Keesokan harinya bertiga, kita belanja ke tukang sayur dan pasar deket rumah. Jalan kaki sambil ngobrol santai. Mungkin ini yang dibutuhkan selama ini ya. Mendengarkan. Sampai di rumah dikeluarin belanjaannya, termasuk toge yang  dibeli, dan itu toge di acak-acak sama si bayi. Aku Cuma bilang ke ibu,”Yank sabar ya bu, anak bayi ini emang begini ni”. Dengan nada dan intonasi yang pas serta senyum yang manis. Ibu pun tetap tertawa. Sepanjang hari, tetap tersenyum meski rumah isinya banyak karena pada datang semua. Lelahnya sudah pasti tapi beliau tetap tersenyum dan semangat. I love you bu.

Aku :
Karena hari ini di rumah banyak orang, jadi lebih banyak komunikasi, tanpa emosi pastinya. Lebih banyak tertawa. Kadang liat temen yang  galak sama anaknya, jadi sebal ya. Duh besok ga mau kaya gitu (dalam hati). Masih harus belajar memilih kata-kata yang positif.

#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 04 November 2017

SALING MENGINGATKAN

Patner : Mas Bro
Target : Tak pakai emosi

Malam sebelumnya ngebahas tentang mas bro yang salah daftar atas sesuatu. Aku bilang sebelum dia pergi untuk daftar A, tapi pas pulang kerja, liat dikertasnya, loh kok malah daftar B. Sebel siy. Aku yang salah menyampaikan atau dia yang salah mendengar.  Tapi coba menahan emosi dan berhasil, untuk tetap santai dan stay cool. Hehe. Membahas kesalahan itu, yasudahlah toh bisa daftar minggu depan lagi katanya. Case Closed.

Pagi ini sepertinya gagal berkomprod, rasa kesal di hati jadi bikin males bicara dan menjawab asal. Awalnya siy gara-gara minta tolong ke  mas bro jagain si bayi, eh malah nyautinnya ga enak (intonasinya siy yang ga enak). Jadi sebal. Saat sarapan bareng (masih dalam kondisi sebal) jadi kalau dia tanya, aku jawabnya asal deh atau seadanya. Tapi mungkin suasana hatinya mas bro udah baik kali ya, dia malah ngajak becanda dan bilang,”Yank qo gitu siy jawabnya, katanya udah belajar komunikasi, aku aja udah belajar juga”. Sambil cengengesan. Aku jadi ikut ketawa. Alhamdulillah masih diingatkan. Jadi buang jauh-jauh deh sebal dan kesalnya. Hmmm tapi pasti mereka balik lagi semaunya.

Aku :
Sepertinya masih harus banyak belajar tentang komunikasi produktif ini, karena terus terang prakteknya itu susah. Masih suka terbawa emosi. Di kantor pun sama, masih suka menatap layar komputer saat diajak bicara oleh teman. Tapi tetap selalu ada senyum sesudahnya.

#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 03 November 2017

MarKiShol (Mari Kita Sholat)

Kali ini mau berkomprod (komunikasi produktif) sama adikku yang sudah kelas 7 tapi masih agak males sholatnya.

Patner : Anggi
Target : Sholat 5 waktu

Praktek komprod di mulai di malam sebelumnya. Saat azan maghrib, aku sudah memakai mukena ku, dan mencoba berkomprod sama anggi untuk menyuruhnya sholat. Ku tekan semua ego dan emosi yang sering keluar saat menyuruhnya, melembutkan suara dan memasang senyum. Kemudian keluarlah kalimat,”Nanti abis mandi Sholat ya kakak anggi”. 

Hasil :
Dia yang sedang beristirahat dan masih memakai seragam (Anggi sekolah siang) langsung mengaguk. Dan langsung ke kamar mandi. Selesai aku sholat, ku lihat Anggi sudah mandi dan bersiap sholat dengan mukena yang baru dia ambil di lemari. Begitu pun saat Isya, saat aku sudah berwudhu,”Jangan lupa sholat ya kakak Anggi”. Tak lama selesai dia makan dan main hp, langsung wudhu dan sholat Isya. Saat subuh pagi tadi, dia masih dibangunin untuk sholat dan tidur lagi sesudahnya. Tapi dzuhurnya, tanpa disuruh, dia langsung melaksanakan,”Aku sholat ya”. Kemudian sholat fardu selanjutnya dia kerjakan tanpa aku suruh lagi. Alhamdulillah semoga bisa seterusnya seperti itu.

Habis mandi langsung sholat

Aku:
Biasanya kalau menyuruh Anggi selalu pakai emosi, bahkan sering berkata kasar. Tapi ternyata saat aku ubah caraku semua berjalan mulus. Hari ini masih mencoba meminimkan emosi, kadang aku kalau menjawab pertanyaan orang lain masih suka semaunya, kemudian kalau orang tak mendengar jelas atau tak mengerti jawabanku, keluarlah jawaban selanjutnya dengan nada kesal. Haduhhh… ini yang tadi diprotes sama mas bro,”ih jawabannya ga enak”. Padahal jawabannya biasa, hanya saja intonasinya yang ga enak. Eh apa kabar mas bro? sepertinya aku ga dengar dia pamit hari ini tapi tadi aku tanya, dia bilang sudah pamit. Semoga benar ya.. Kemudian sama si bayi kecil kami, masih selalu dibisikan kata-kata positif.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jangan Lupa Pamit Yaa..

Yeaay akhirnya sampai juga di kelas Bunda Sayang alias kelas BunSay. Materi pertama di kelas BunSay yaitu Komunikasi Produktif. Dan tantangan 10 harinya adalah melakukan komunikasi produktif dengan anggota keluarga.


Untuk hari pertama :
Patner : Suami ku alias Mas Bro
Target : Kalau pergi kerja pamit sama ibu ku

Malam sebelumnya, aku sedikit membahas tentang teori yang aku dapat. Dan aku tanyakan apakah dia bersedia jadi patner praktek ku kali ini, Alhamdulillah jawabannya dia bersedia. Aku bilang ke beliau kalau komunikasi itu penting, karena selama ini dia sangat jarang komunikasi dengan ibu, kalau dirumah lebih banyak di kamar saja, tanpa basa basi. Alesannya dia ga mau banyak omong. Tapi menurutku keluarga yang sehat berawal dari komunikasi yang lancar. Aku mau anak ku tumbuh di keluarga yang bahagia dan harmonis. Jadi aku minta ke mas bro untuk melakukan hal kecil yaitu pamit kalau mau pergi.

Hasil :
Pagi tadi beliau pamit ke ibu pas mau berangkat kerja, dan siang tadi ( karena kalau istirahat pulang, kantor dekat rumah ) waktu mau berangkat kerja, aku dengar juga dia pamit sama ibu, “ Berangkat bu”, gitu katanya. Dan ibu juga menanggapi dengan baik. Alhamdulillah, semoga bisa seterusnya. Meskipun hari ini masih dengan nada yang datar tapi efeknya dasyat, ya kan mas bro?!. Tak lupa malam harinya aku berterimakasih ke beliau," Besok lagi ya mas". Dia bilang,"Udah ah, aneh". Yahhhh....

Aku :
Aku sendiri masih harus belajar dalam mempraktekkan komunikasi produktif, masih mencoba berbicara tanpa pakai emosi (hari ini masih suka kesel kalau lawan bicara ga nyambung), masih belajar berbicara dengan senyum (hari ini masih suka sambil pegang hp kalau ngomong). Tak lupa mengajak bayi ku berbicara, walau dia belum bisa mengerti dan hanya bisa menjawab ih atau eh.  Semoga besok bisa lebih baik.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 26 Oktober 2017

WISUDA MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH 4

Wisuda lagi? Bukannya sudah wisuda?  Iyups… wisuda lagi.
Wisuda S2? Hmm,,, bukan,, tapi wisuda diprogram matrikulasi di Institut Ibu Profesional (IIP)
Apa tuh? Hmm,, kalau menurut aku, semacam komunitas untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. (pengertian singkat dari aku ini loh ya, kalau yang aslinya, bisa gugel aja, sudah banyak kok infonya tentang IIP). Inilah akhir dari NHW 1-9 yang ada di blog ini. Boleh dilihat loh, dibaca juga boleh ☺

Info wisuda & seminarnya

 Minggu, 22 Oktober 2017, acara wisudanya, biar semangat acaranya diadain di pagi hari, pukul 07.00 di Universitas Budi Dharma Karawaci. Tidur malamnya ga nyenyak ya, sebelum tidur nyetrika baju dulu buat dipake besok, eaaa… hihi.. Bagun pagi-pagi sholat subuh, terus nyari nasi uduk buat sarapan, eh si dede udah bangun, ajak ajalah, kan mau ditinggal hari ini, (maap ya de, undanya pergi cari ilmu dulu). Sarapan terus mandi ( hiyuhh kebalik ya, but it’s ok. It’s me and Don’t try this yaa ). Dede juga udah dimandiin, Cuma belum disuapin sarapan, berangkat dianter mas bro, diiringi tangisan dede, huhu jadi ga tega, tapi harus. Karena aku penumpang yang baik, jadi duduk manis aja deh, mau dibawa lewat mana juga, tapi pas di daerah cikokol, aktifin Maps deh, ehladala.. pas masuk daerah karawaci kok Maps menunjukan arah makin menjauh dari lokasi tujuan. Mas bro salah arah, alhasil puter balik dan sampai tujuan udah pukul 07.20, yah ga kebagian bingkisan untuk 10 peserta pertama deh.

Pin Penyemangatku

Tapi gapapa, langsung ngikutin acara wisuda yang ga kalah penting, masih bisa lihat video dari ibu Septi, masih mengikuti penyematan Pin penyemangat, masih ikut pembacaan janji wisudawan. Terus sambil nunggu acara seminar dimulai, ada door price dan game, hadiahnya keren-keren, ada flasdish, buku, kerudung. Padahal dalam hati ngarep dapat salah satu buku, soalnya bukunya bagus-bagus. Tapi nasib kurang baik berpihak sama aku, jadi ga dapat hadiah deh sampai pulang. Sedih,, tapi tak apa, lanjut ke acara seminar.

Di wisuda kali ini ada seminarnya, pembicaranya suami istri yang inspiratif banget, dan temanya bener-bener menarik yaitu tentang Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak. Cucok kan buat orang tua, apalagi orang tua macam kami ini (aku dan mas bro) yang minim banget ilmu pengetahuan tentang anak. Sayangnya mas bro ga ikut di acara ini, karena harus ke rumah ibu. Menurut pembicara, bakat sudah bisa dilihat sekitar umur anak 1,5 tahun, hanya saja si orang tua peka atau tidak dengan penampakan yang ada atau muncul  pada si anak. Cirinya bisa dilihat bila itu dilakukan secara senang,  berulang, bersemangat  dan dipelajari dengan mudah olehnya. Di puterin video, anak bayi 2 tahun yang jago banget masukin bola ke ring basket dengan jarak-jarak tertentu, padahal  bayi itu pasti belum belajar hitung-hitungan tentang tenaga dan kecepatan yang di butuhkan untuk memasukan bola tersebut kan. Itulah bakat. Kurang lebih seperti itu penjelasan dari kang firman yang menjadi pembicara dalam seminar kali ini.

Kalau dari istrinya kang Firman yaitu teh Elma, yang mengena banget dihati yaitu kalimat, Kalau mau menjadi sahabat saat anak dewasa nanti, itu ada rumusnya, Lekat-Dekat-Sahabat. Jadi kita itu harus lekat terlebih dahulu, kemudian dekat dan baru bisa menjadi sahabat. Lekat ciptakan bonding antara orang tua dan anak, Dekat sediakan waktu yang berkualias saat bersama, dan sahabatlah hasilnya. Itulah kenapa dulu aku sempat takut, kalau ga bisa menyusui langsung, takut ga dapat boonding antara ibu dan anak, dan takut juga mau kerja, takut ga bisa deket sama anak. Alhamdulillah hal itu ga terjadi, kalau di rumah dede maunya nempel ajah tuh, aku juga masih menyusui langsung dan masih sering nyuapain dan nyiapin MPASI nya. Dan masih terus belajar untuk jadi ibu yang baik.

Pokoknya acara kemarin seru banget deh. Untuk mengenali bakat yang  kita punya juga bisa mengikuti TMA ( Talents Mapping Assessment) atau tes bakat. Nantinya akan ketauan bakat yang paling kuat dan yang paling rendah. Nah kalau sudah ketauan kita bisa menyiasati itu semua deh. Sampai ke sisi tanya jawab, dan yang bertanya dapat hadiah. Andai aku bertanya…

Sampai dipenghujung acara, foto-foto bareng semua wisudawan, bareng pembicara seminar, bareng sama fasilitator kelas kami, bunda Nani. Yup masing-masing kelas matrikulasi ada satu orang fasilitatornya, semacam dosenlah. Dia yang menyampaikan semua materi setiap minggunya. Ada pengurus kelas juga. Beneran kaya sekolah lagi deh. Banyak banget pelajaran yang di dapat dari kelas ini. Secara aku kerja cuma sendirian di dalam ruang. Ga ada tempat untuk bertanya tentang anak, disinilah aku dapat bertanya dan belajar dari pengalaman teman-teman disini. Kelas selanjutnya setelah matrikulasi yaitu kelas Bunda Sayang. Semoga aku bisa ngikutin kelasnya, di antara rumah dan kantor.

Peserta Wisuda

Selesai sudah acara wisudanya, ada bazar juga, macem-macem. Ada konselor laktasi juga, hemm pengen banget konsul, tapi buru-buru pulang, kangen dede, jadi ga bisa liat-liat bazar deh.  Ada kids Cornernya juga, anak-anak bisa main disana saat orangtuanya ikut seminar. Dapat Goodie bag dari cusson, sanack dan lunch juga, pokoknya garugi deh ikut acara kemarin walau ga dapet doorprice, hehe. Akhirnya pesen gojek dari kampus ke rumah, dan tau tarifnya berapa, cuma kena 10rb doank donk. Dapet voucher 10rb siy, mungkin dapatnya waktu abis naik GoCar ke Lomba merangkak minggu sebelumnya. Dan jalur yang dilewati untuk pulang, beda sama berangkat tadi, ternyata lebih deket, tau-tau ada di belakang TangCit.Lahhh….

Goodie Bag untuk peserta yang bagiin bunda cantik

Buat ibu-ibu atau bunda-bunda yang mau ikutan kelas matrikulasi, kayanya udah dibuka lagi deh untuk Batch 5, coba aja cek link ini ya untuk pendaftaran : http://bit.do/FormRegistrasiAwal

Senin, 16 Oktober 2017

LOMBA MERANGKAK

Kali ini aku mau cerita, pengalaman pertama kami mengikuti lomba. Lomba merangkak yang kami ikuti, Dede siy yang ikut, aku Cuma dampingi ajah. Dapat info lomba dari group WA (lagi-lagi group WA hihi). Pendaftaran lombanya sudah dari 2 minggu sebelumnya, via online, dan yuhuu gratisan. Lombanya diadain oleh haibunda.com, banyak lomba untuk bunda dan anak juga. Sebenernya ini acara Festival Bunda Happy, acaranya 3 hari, tapi aku datang di hari terakhir. Kemarin maju mundur juga siy, ikut atau ga, karena pertimbangan lokasi acara yang jauh dari rumah, sekitar 22km (liat dari jarak GoCar), tepatnya di Lotte Shopping Avenue Kuningan, kebayang ya bu, jauhnya dari rumah eike..

Info dari WAGroup
Etapi kita sekeluarga tetep antusias gitu, seru ajah dan buat pengalaman kami semua. Akhirnya diputuskanlah datang kesana. Minggu pagi kami bersiap. Karena bawa si dede (yaiyalah dia yang mau ikut lomba) jadi kita pakai jasa GoCar. Pesen GoCar dari rumah jam 8.30 dan langsung dapat. Perjalanan lancar, lewat tol Karang tengah-Tomang. Ga sampai  1 jam udah sampai, 09.20 kita udah sampai di Mall nya, jeng-jeng Mall nya belum buka. Jadilah kita nunggu di kursi depan Mall. Tarif GoCar 63ribu pakai GoPay, dan tarif tol sebenernya 7rb, tapi aku bayar pakai cash 10rb, biarlah, dan si driver minta bintang 5 pula. Yowes kasih.. Karena beliau juga ramah banget qo.

Lumayan rame juga yang nunggu di luar. Tepat jam 10.00, Pintu Mall akhirnya dibuka, langsung deh kita cus ke tempat acara. Rame juga yang datang, antri daftar ulang, ihh kirain mau dapat goodie bag, ternyata cuma 20 orang pendaftar ulang  pertama. Sedangkan aku, no urut 25, yaahhh ga dapet deh. Padahal udah girang mau dapat gratisan. Abis daftar ulang, masuk lokasi, pengen ke play ground  namanya odong-odong land hihi lucu, eh udah penuh banget, jadi aku masuk dulu ke nursery room deh, buat nyusuin dede. Nursery room nya enak banget, kursinya empuk bisa buat selonjoran, tapi Cuma tersedia 2 ruangan, semakin lama semakin rame, akhirnya 1 ruangan diisi 3 orang. Aku keluar deh, karena dede juga udah bobo.

Ga lama keluar dari nursery room, lomba pun dimulai. Lomba per 10 peserta per kloter, jadi dede masuk di kloter ke-3, tapi dia masih bobo cantik. Pas nomernya dipanggil, aku bilang ke mba panitianya, kalau dia lagi tidur, dan mba nya bilang, yaudah gapapa, ntar dituker aja, kalau udah bangun. Ga lama si dede bangun, tapi masih cranky gitu, terus langsung aku ikutin deh dia, entah dikloter berapa, aku lupa, tapi bareng sama nomer 60an. Aku datang lagi ke tempat lomba, pas mba nya liat nomer ku, dia malah bilang, ibu kan dibilang jangan jauh-jauh,  (nadanya rada ga enak ya). Aku bilang, kan tadi tidur mba. Kepiye toh..
Nangis tapi tetep merangkak pelan

Aku masuk ke arena, disuruh ke barisan paling pinggir, rada gelap ni barisan. Dede masih anteng aja, tapi didudukin dia ga mau, masih ngegelendot (haduh bahasa apa ini) sama emaknya aje. Tetap aku dudukin, masih asik mainan. 1.. 2.. 3.. lari dong bunda nya ke garis Finish, ninggalin dede di garis start, alhasil dia nangis kejer, sambil merangkak pelan, aku panggil-panggil tapi dia ga ngeliat, aku malah jadi kasian ngeliatnya. Pritt.. priwitan ditiup tandanya udah ada yang sampai garis finish, langsung aku buru-buru gendong dede, ciumin deh, kasian banget. Tapi seneng aja tuh kami liatny, walau ga menang, semoga bisa jadi kenangan kalau dede udah besar nanti.

Soklah.. cari makan siang dulu.. pas mau keluar dari tempat acara, eh dapat yang gratisan, yummy bites buat dede. Dapat Wake-wake, buat aku, katanya siy untuk memperlancar ASI. Sebelumnya dia tanya, dede ASI ga, aku bilang iya, tapi udah campur sufor. Aku excited nih mau coba, karena buru-buru, jadi ga sempet nanya-nanya deh. Aku coba besoknya pas udah dirumah, sebelumnya udah disimpan di kulkas, kayanya dingin lebih seger. Aku coba, warnanya ijo butek layaknya jamu gitu, baunya juga kaya daun yang ditumbuk. Tapi pas aku minum, enakloh, ada rasa lemonnya gitu, manis, seger juga karena udah dingin, kenapa ga daridulu dapet samplenya, waktu aku lagi nyoba banyak booster ASI. Kalau hasilnya aku kurang tau, coz baru nyoba 1 botol ini. Aku gugel siy, harganya 8500 per botol, minimal beli 10 botol, katanya dari daun angin-angin. Tapi aku udah follow shopie id nya, sok yang mau coba cari aja wake-wake. Aku juga mmau coba pesen.
Kemasan lucu wake wake

Terus lanjut cari tempat makan yang dituju, warung leko, dapat rekomendasi dari Group WA (lagi hihi) kalau mau hemat di LOVE (Lotte Avenue) makan disitu. Browsing di gugel juga siy katanya begitu.  Naik ke lantai 3, akhirnya ketemu juga donk, warung leko, kayanya warung sunda ya, coz di puterin musik sunda terus siy. Sepi  ya, aku juga kurang begitu suka sama pelayannya, kurang ramah gitu, ga jutek siy, datar aja gitu ekspresinya.  Yaudah kita makan ber-4, eh di dstruk pembayaran ternyata ber-5 loh, dede diitung. Ada harga servise juga hampir 9rb (maksudnya apa ya). Apa karena aku minta 60mL air panas ntuk susu dede ya. Jadi lah harga yang tertera di struk 206rb. Pesenan es teh manis, mie goreng ayam, nasi goreng otot (otot itu kaya tetelan  empuk, ini rasanya asin banget), nasi putih dan ayam bakar (sambelnya enak). Abis selesai makan cari mushola, sholat dan dede kembali cranky di gendong ayahnya, sampai diliatin orang-orang. Hihi.. pas digendong emaknya, langsung diem, rem nya pakem bener dah.

Selesai semuanya, terus turun, sampai loby, pesen GoCar, ajegile harganya 2x lipat dari berangkatnya euy. Tiap menit di cek apps, makin lama makin mahal ya. Terus kita diemin aja. Pas ngecek lagi, agak turun harga, yoweslah pesen ajah. Karena GoPay ga cukup, mau transfer ke atm, males masuk lagi dan ga bawa token juga. Alhasil pakai Cashlah, kena 118rb + tol 7rb.  Drivernya ramah, bintang 5 deh. Kayanya aku kalau pakai Gojek atau GoCar ga pelit bintang deh, hihi. Paling sedikit 3 bintang.

Begitulah pengalaman pertama kami, kalau ada lagi yang lokasinya ga terlalu jauh, mau ikutan lagi. Sebenernya kemarin ditawari ikutan lagi, morinaga yang  ngadain, tapi di Mall BasuRa (Basuki Rahmat) deket pasar gembrong katanya, tapi jauh dari rumah ku lah pastinya, cek maps, hampir 30 km bu. Ikutan acara kaya gini gapapa ga menang, yang penting jalan-jalan dan bahagia. Kalau ada info lomba bayi dan balita, tolong kasih tau ya bund.. 😊

Kamis, 12 Oktober 2017

MELAHIRKAN DENGAN BPJS

Agak flashback jauh ya moms,, melahirkan sudah hampir 9 bulan yang lalu dari sekarang, tau-tau mau berbagi cerita tentang saat itu karena dengar temen abis melahirkan dengan cara Caesar (wuihh rasanya, yang ngerasain pasti taulah yaa). 

Logo BPJS
 
Punya BPJS pas menginjak usia kehamilan di bulan ke tiga, BPJS dari kantornya mas bro yang baru mulai ada saat itu. Padahal ya pas masuk bulan ke-2 kehamilan aku sempet masuk rumah sakit, karena mabok parah, tapi belum punya BPJS, alhasil pakai dana pribadi,  yang ini ga dirembes kantor ku juga deh, jadi pakai uang tabungan hikz.. hikz..  waktu itu, abis masuk UGD terus  dirawat 3 hari 2 malam di kelas 3, pulang pas sore malam takbir, besoknya lebaran euy,, and you know abis berapa?  kurleb 3jtan, ohhh ngumpulinnya susah padahal. Ikhlas.. rejeki in shaa Allah ada terus. 

Akhirnya punya BPJS juga dari kantornya mas bro, baru 2 bulan punya eh aku masuk rumah sakit lagi donk ya, karena hal yang sama mabok parah, kali ini perawatan lebih komplit. Habis masuk UGD terus masuk ruang perawatan, kelas 2 sesuai dengan BPJSnya, 5 hari 5 malam, plus tranfusi darah 2 kantong dan USG (ini suamiku yang minta). Kali ini habis berapa ? kurleb 100rb sajah, karena biaya USG yang ga dicover karena keinginan sendiri. Dan vitamin yang direkomendasiin Dokter Kandungan dibeli di apotik luar Rumah Sakit. Emang rezeki ga akan kemana kan, hihi. 

Dan memasuki bulan ke-8 kehamilan, si bayi masih dalam posisi sungsang, saat itu masih berharap bisa lahir normal, tapi juga mempersiapkan kalau harus Caesar. Cari info untuk melahirkan dengan Caesar pakai BPJS.  Untuk prosedur persalinan Caesar harus ada indikasi medis seperti sungsang, gawat janin atau ketuban pecah dini dan lainnya. Periksa kehamilan di bidan atau faskes 1 ( ini yang ga aku lakuin, aku periksa dibidan deket rumah ), surat rujukan dari faskes 1, fotocopy ktp , kk dan kartu BPJS. 

Nah diakhir bulan ke-8 kehamilan, mulai deh mempersiapkan BPJS, karena posisi bayi yang ga berubah. Datanglah mas bro ke faskes 1, bawa buku periksa kehamilan dan hasil USG (buku pink itu loh). Dari faskes 1, ternyata saat itu mereka pakai bidan yang praktek sendiri yang ga ada di klinik tersebut. Di lihat buku pink tersebut, ternyata aku ga pernah periksa di bidan X (bidan yang ditunjuk faskes 1), mba CS klinik menyarankan aku kebidan X dulu. Yasudah akhirnya untuk kontrol selanjutnya (sekarang sudah 2 minggu sekali kontronya) aku memutuskan untuk kontrol dibidan X tersebut. 

Buku Periksa Kehamilan
 
Dan tibalah saat kontrol, sampai disana aku cerita sama bidan X tentang posisi bayi ku, dia liat buku pink aku, dan apa yang terjadi? Dia ga mau periksa aku, karena dari awal aku ga periksa di dia, dia bilang juga nanti ga enak sama bidan tempat aku periksa, karena mereka saling kenal. Nah loh… Daripada ga periksa, besoknya aku balik ke bidan ku untuk periksa. 
 
Ga lama sesudah itu, aku dan mas bro ke klinik faskes 1 lagi, untuk nanya dan USG disana, dan OMG hasil USG nya HPL ( Hari Perkiraan Lahirnya ) mundur 1 bulan dari HPL selama ini. Kaget bukan maen, jadilah si Faskes 1 ini tetep ga mau kasih surat rujukannya. Dan suruh aku balik lagi ke bidan X. Besoknya sepulang kerja suamiku balik lagi ke bidan X (kondisi kandungan ku 36 minggu saat itu). Dan kalian tau apa, bidan X bersedia membantu asalkan ada dana untuk booking tempat katanya, sekitar 3jt. Suamiku pulang ke rumah, jemput aku untuk ke bidan X, aku dan suami sampai di bidan X, dia menyanggupi membatu pakai BPJS asal ya itu tadi. Kali ini dia ramah banget, dan aku diperiksa, ternyata memang benar posisi si bayi sungsang. Dan dia bilang, ada tempat kosong malam ini di RS dan mungkin rejekinya si dede bayi katanya. Jadi bisa melahirkan malam ini juga. WHAT???? 

Kesel + Sebel bukan main sama mas bro alias suami ku itu, karena jawaban dia iya iya aja. 36 minggu, bayi ku mau dilahirin, apa dia ga mikir resikonya. Aku otomatis nolak lah, alasan ku waktu itu belum siap. Belum siap semuanya. Dan jawaban bu bidan X itu, Cuma siapin kain panjang aja kok, popok atau keperluan bayi bisa dibeli di toko depan RS. Ahhh… rasanya saat itu, pengen triak semua printilan bayi sudah siap, sudah di cuci, sudah di sterika. Huhhh… Tetap aku bilang “ENGGAK” hari ini aku ga mau lahiran. Akhirnya dia ngasih aku waktu 2 hari untuk berfikir, dan dia ngasih nomer hp nya, nanti kalau sudah 2 hari itu telfon dia, untuk mastiin tanggalnya. Aku ceritain semua sama ibu ku dan keluarga besarku. Dan aku putusin, aku ga mau balik ke bidan X itu. Biarlah aku melahirkan tanpa biaya BPJS.

Jadwal kontrol di minggu ke 37, aku bilang sama bidan ku, mau paket melahirkan yang dari dia aja. Tapi dia malah bilang pakai BPJS, kan punya, kenapa ga dipakai. Akhirnya aku ceritain aja semuanya. Dia sampai terheran-heran, dan dia mau bantu kalau ga dapet juga, nanti dia yang urusin surat rujukan dari puskesmas tempat dia praktek, dan ini tanpa embel-embel uang trimakasih alias GRATIS. Dia kasih lagi surat untuk ketemu DSOG ku, untuk mastiin tanggal. Beberapa hari kemudian aku ke RS untuk USG, dan dokter bilang posisi ga berubah tetap SUNGSANG. Aku minta tulis di buku pink kalau aku harus operasi. Karena masih penasaran, pulang dari RS, aku dan ibu ku ke klinik faskes 1. Aku tunjukin hasil atau tulisan dari DSOG ku yangmengharuskan operasi. Tapi mba CS ini masih kekeuh aku harus nunggu sampai HPL yang berdasarkan USG di faskes 1. Coba aja mba itung dari tanggal aku pertama periksa, akhirnya dikasih jugalah itu surat rujukan. Ternyata tanda tangan bidan X itu sudah tersimpan dikomputer faskes 1, jadi tinggal print aja gitu tanpa harus ada bidan X nya. Dari faskes 1, aku dan ibu ku langsung ke bidan tempat ku periksa, ngasih tau bu bidan kalau aku sudah dapet surat rujukan, dan dia rekomen tanggal untuk melahirkan. 

Berbekal surat rujukan, pas hari sabtu suami ku libur ngantor, dia ke RS untuk pesen kamar, dan ketemu DSOG ku, dan DSOG ku memutuskan hari senin operasinya. Kalau masalah perlengkapan in shaa Allah semua sudah siap, mental dan doa, itu yang harus dikuatkan. Karena aku belum pernah masuk ke ruang operasi. Takut? Iya, tapi keluarga besar bilang, udah ga usah dipikirin, tenang aja. Oia hari minggunya aku mesti cek darah, di lab RS. Padahal udah dapet rujukannya, eh tapi mas bro salah daftar, seharusnya daftar di loket BPJS, dia malah daftar di loket umum, alhasil kena bayar deh. Kurleb 200rb deh kalau ga salah inget. 

Senin pun tiba, pagi-pagi dari rumah, naik mobil dianter bapak ,ibu, bude dan pakde, mas bro naik motor. Sampai di RS mas bro daftar lagi, di loket BPJS, dapat no kamar, sandal dan perlengkapan mandi. Naik ke atas, ditawari mau diantar ga (pakai kursi roda). Aku nolak, ga usah mba, jalan aja. Sampai atas, mas bro kasihlah surat2 dari bagian administrasi ke perawat yang jaga, terus aku dipanggil, disuruh pipis or pup, tapi cuma bisa pipis aja. Terus ganti baju operasi, semua yang ada di badan di lepas, kalung,cincni dan anting, karena anting ini udah lama banget jadi susah dilepasnya. Hasilnya dilepas sama petugas operasinya pakai tang kecil. 

Nunggu giliran, lumayan lama ya. Pas giliran itu datang, semua  yang nganter bilang santai aja ya, ga usah mikirin apa-apa.  Masuk ruang operasi, diajakain ngobrol santai siy sama perawat dan petugasnya, dokter2nya pun baik dan ramah. Disuntik anastesi sambil bungkuk, sebelumnya di semprot cariran apa gitu, rasanya digin. Abis itu seprauh badan bagian bawah kebal dan ga bisa diapa-apain. Operasi pun dimulai, berbagai alat di tempel dibadan dan jari untuk monitor kondisi (entah apalah namanya). Salah seorang petugas menyuruh tidur, tapi aku ga bisa tidur, denger suara darah yang disedot, suara alat yang di taruh di tempat alumunium bergantian. Dan tangis si bayi pun kedengeran pukul 09.45 pagi, lega, dibawa sama dokter anak, dan aku langsung nanya “ lengkap ga dok?” (pertanyaan apa itu) Alhamduliilah lengkap, beratnya 2850gr panjang 48cm, perempuan. Langsung IMD, ga sampai 1 menit aku rasa, dede bayi pun dibawa untuk dibersihkan. 

Selesai urusan jahit menjahit perut, aku dibawa ke ruang  observasi, bergantian yang nganter datang 1 per 1, sedih mau nangis (udah nangis deh).  Si dede bayi, di ruang observasi bayi dan sudah di azankan oleh ayahnya. Terus aku dipindah ke ruang perawatan. Dikasih  makan dan minum, obat bius perlahan mulai hilang. Si bayi baru dibawa keruangan ku sore hari, sekitar jam 4. Saat itu aku dan mas bro, bingung gimana ngambilnya karena saat itu kami hanya berdua, akhirnya minta bantuan suster. Habis magrib keluarga ku datang lagi. Liat si bayi kecil. Malam pun tiba, efek obat bius pun hilang, rasa sakit yang ga bisa ditahan, nangis, mas bro bolak balik panggil suster. Minta obat tapi ga dikasih, sampai aku bener-bener ga kuat. Aku minta obat sama suster, “ besok pagi ibu ga dapat jatah obat lagi ya” kata susternya. Pikir ku sabodolah, yang penting sakitnya sekarang berkurang. Ehtapi besok paginya tetep dapet obat yang sama, pereda rasa sakit (entah namanya apa). 

Sesuai dengan BPJS, aku dirawat di kelas 2, kalau dari pelayanan sama aja, semua suster ramah, bersih, tapi kalau di kelas 3 isinya 3 orang, kalau kelas 2 isinya 2 orang. Ini siy kebijakan masing-masing RS ya. Aku dirawat 3 hari 2 malam di RS. Hari ke 2, mas bro minta surat keterangan lahir, terus ngurus ke kantor BPJS untuk ngurus BPJS bayi, harusnya siy HRD yang ngurusi, tapi mungkin lagi sibuk, jadi mas bro sendiri yang ngurus. Selesai dalam 1 hari, terus setor ke RS. Teman sekamarku juga pakai BPJS tapi mandiri bukan yang dari perusahaan, tapi bayi nya baru difatarin BPJS, sedangkan BPJS baru aktif 14 hari setelah daftar. Jadi bayi mereka ga di cover BPJS. Hari terakhir pas mau pulang, mas bro ngurus administrasi lagi, dan free alis GRATIS, (Cuma bayar obat yang ga di cover siy, sekitar 50rb). Dede bayi pun GRATIS. Kalau teman sekamar ku, dia juga GRATIS ibunya (bayar obat juga yang sama kaya aku) dan si bayi kena sekitar 1jutaan. Gapapalah ya. Coba kalau semua bayar, mungkin bisa kena 10jutaan kali ya. Ga dapet rinciannya siy. Alhamdulillah rezeki lagi. 

Aku dan dede bayi dapet jatah 1 kali kontrol. Seminggu kemudian aku kontrol ke DSOG ku, buka perban dan liat jahitan, bagus dia bilang. Dan ga ditutup lagi.  OMG ngeri lah.. Dan si dede (ini yang aku sesali) dia di bilang kuning, jadi DSA nyuruh tes darah bilirubin, bayi sekecil itu diambil darahnya, aku sampai ga tega mau masuk lab, aku nangis di depan pintu lab. Sesudah itu aku langsung pulang, aku ga tungguin tuh hasil lab. Tes darah ditanggung BPJS juga dan Free (tapi gratisan kali ini ga bikin aku bahagia). Aku bawa bayi ku ke bu bidan tempat ku periksa, aku ceritain, dia mah baik banget dan bikin tenang, gapapa ini mah, jemur aja, sama terus susuin. Entar juga hilang. Dia minta ambil aja hasil tesnya. Pulang kerja mas bro ngambil hasil tesnya, terus aku bawa lagi ke bu bidan, bilirubinnya 14,9. Bu bidan tetep Cuma nyuruh, di jemur aja, dan di susuin(ASI).  Alhamdulillah semua berlalu, sekarang dia tumbuh sehat, lincah dan pintar. Dia membawa kebahagian buat semua keluarga. Semoga kelak selalu begitu ya de.. Doa kami di nadi mu (eeaa lagu). 

Buat yang mau pakai BPJS, kalau belum punya, buruan bikin deh, karena berguna banget saat dibutuhkan. Kalau belum dibutuhkan, ya itung2 amal membantu yang lain ya, hihi. Buat yang udah punya, jangan lupa bayar tiap bulan, nanti kena denda loh dan kalau tiba-tiba butuh jadi ga bisa dipakai BPJSnya.  Terus kalau mau pakai BPJS mendingan ikutin peraturan dan alurnya deh, jangan kaya aku dan suamiku, jadi ribet dan ada bagian yang seharusnya gratis jadi bayar hoho.in shaa Allah dimudahkan untuk semua.